Dari Tinta ke Piksel
Uitgelicht
|
15,00 |
Naar shop
|
|
42,62 |
Naar shop
|
|
42,62 |
Naar shop
|
Beschrijving
Bol
Ada yang tidak berubah dari jurnalisme populer Indonesia, meski wajahnya telah berganti berkali-kali.Dulu, koran kuning dijual di perempatan. Judulnya dicetak besar-besar, kadang dengan tanda seru yang berlebihan. Fotonya dipilih bukan karena informatif, melainkan karena mengejutkan. Pembaca membeli bukan hanya karena ingin tahu berita-tapi karena tertarik, terpancing, atau sekadar penasaran. Redaksi tahu itu. Dan mereka memanfaatkannya dengan sangat sadar.Ketika internet datang, banyak yang berharap era sensasionalisme ikut berlalu. Kenyataannya berbeda. Logika koran kuning tidak mati-ia bermigrasi. Judul yang menggelegar kini hadir sebagai headline portal berita. Foto mengejutkan kini menjadi thumbnail video. Dan "berita terlaris" kini diukur bukan oleh oplah, melainkan oleh jumlah klik, share, dan waktu baca.Dari Tinta ke Piksel: Jejak Koran Kuning di Era Digital adalah upaya untuk memahami perjalanan itu secara jujur dan menyeluruh.Melalui delapan bab yang disusun secara naratif, buku ini mengajak pembaca menelusuri bagaimana pers populer Indonesia lahir dari kebutuhan pasar yang riil, tumbuh di tengah longgarnya regulasi pasca-Reformasi, lalu menghadapi tantangan terbesar dalam sejarahnya: platform digital yang mengubah cara orang mengonsumsi berita secara fundamental.Buku ini tidak berdiri di menara gading. Ia ditulis dari dalam ruang redaksi-dengan ingatan tentang rapat meja redaksi yang panas, keputusan editorial yang tidak selalu mudah, dan tekanan tenggat waktu yang tidak pernah menunggu.Di sinilah karakter-karakter seperti Pak Jansen, Ibu Lia, Om Ronny, dan Pak Ferdy hadir-bukan sebagai tokoh fiktif semata, melainkan sebagai cerminan dari wajah-wajah yang akrab dalam ekosistem jurnalisme Indonesia.Pada saat yang sama, buku ini berdialog dengan riset dan kajian akademis-dari studi penyebaran misinformasi Vosoughi, Roy, dan Aral di Science, hingga laporan tahunan Reuters Institute tentang konsumsi berita digital global. Pergulatan antara praktik lapangan dan temuan akademis inilah yang membuat buku ini berbeda dari sekadar memoar atau sekadar kritik media.Yang ditawarkan buku ini bukan jawaban tunggal atas pertanyaan "apakah koran kuning itu salah?" Ia menawarkan sesuatu yang lebih penting: pemahaman. Tentang mengapa sensasionalisme terus hidup, apa yang membuatnya menarik bagi pembaca, dan bagaimana jurnalisme yang bertanggung jawab bisa tetap relevan di tengah banjir informasi yang tidak pernah surut.Untuk para jurnalis, mahasiswa komunikasi, pemerhati media, dan siapa saja yang pernah bertanya-tanya mengapa berita buruk selalu lebih mudah viral-buku ini ditulis untuk Anda.
Ada yang tidak berubah dari jurnalisme populer Indonesia, meski wajahnya telah berganti berkali-kali.Dulu, koran kuning dijual di perempatan. Judulnya dicetak besar-besar, kadang dengan tanda seru yang berlebihan. Fotonya dipilih bukan karena informatif, melainkan karena mengejutkan. Pembaca membeli bukan hanya karena ingin tahu berita-tapi karena tertarik, terpancing, atau sekadar penasaran. Redaksi tahu itu. Dan mereka memanfaatkannya dengan sangat sadar.Ketika internet datang, banyak yang berharap era sensasionalisme ikut berlalu. Kenyataannya berbeda. Logika koran kuning tidak mati-ia bermigrasi. Judul yang menggelegar kini hadir sebagai headline portal berita. Foto mengejutkan kini menjadi thumbnail video. Dan "berita terlaris" kini diukur bukan oleh oplah, melainkan oleh jumlah klik, share, dan waktu baca.Dari Tinta ke Piksel: Jejak Koran Kuning di Era Digital adalah upaya untuk memahami perjalanan itu secara jujur dan menyeluruh.Melalui delapan bab yang disusun secara naratif, buku ini mengajak pembaca menelusuri bagaimana pers populer Indonesia lahir dari kebutuhan pasar yang riil, tumbuh di tengah longgarnya regulasi pasca-Reformasi, lalu menghadapi tantangan terbesar dalam sejarahnya: platform digital yang mengubah cara orang mengonsumsi berita secara fundamental.Buku ini tidak berdiri di menara gading. Ia ditulis dari dalam ruang redaksi-dengan ingatan tentang rapat meja redaksi yang panas, keputusan editorial yang tidak selalu mudah, dan tekanan tenggat waktu yang tidak pernah menunggu.Di sinilah karakter-karakter seperti Pak Jansen, Ibu Lia, Om Ronny, dan Pak Ferdy hadir-bukan sebagai tokoh fiktif semata, melainkan sebagai cerminan dari wajah-wajah yang akrab dalam ekosistem jurnalisme Indonesia.Pada saat yang sama, buku ini berdialog dengan riset dan kajian akademis-dari studi penyebaran misinformasi Vosoughi, Roy, dan Aral di Science, hingga laporan tahunan Reuters Institute tentang konsumsi berita digital global. Pergulatan antara praktik lapangan dan temuan akademis inilah yang membuat buku ini berbeda dari sekadar memoar atau sekadar kritik media.Yang ditawarkan buku ini bukan jawaban tunggal atas pertanyaan "apakah koran kuning itu salah?" Ia menawarkan sesuatu yang lebih penting: pemahaman. Tentang mengapa sensasionalisme terus hidup, apa yang membuatnya menarik bagi pembaca, dan bagaimana jurnalisme yang bertanggung jawab bisa tetap relevan di tengah banjir informasi yang tidak pernah surut.Untuk para jurnalis, mahasiswa komunikasi, pemerhati media, dan siapa saja yang pernah bertanya-tanya mengapa berita buruk selalu lebih mudah viral-buku ini ditulis untuk Anda.
AmazonPages: 144, Paperback, Donny Turang